Karena sudah bekerja, dan mayoritas penduduk yang beragama nasrani, kota hanya akan buka dan memiliki pekan libur di hari sabtu. Hari minggu dikhususkan mereka untuk ibadah. mungkin tidak ada aktivitas lain selain ibadah. Jika kamu berkunjung ke pusat kota, maka hampir semua toko tutup di hari minggu. jadi hari sabtu lah kesempatan kami, aku dan temanku menghabiskan waktu untuk berkeliling-keliling kota Bitung
Read more ...
Karena pagi hari sangat terik ( mungkin karena kota ini timur nya berbatasan dengan laut ) jika keluar pada jam-jam 8 pagi ke atas, akan terasa peluh keringat membasahi sekujur tubuh. Sebaiknya pergi saat setelah siang hari atau sore sekalian. Pukul 15.30 kami siap untuk jalan-jalan.
Sebenarnya kami tidak terlalu tahu akan mengarahkan kemana motor pinjaman ini ke mana, kemudian kami memutuskan berjalan sejauh apa kota Bitung berbatasan. Melaju lurus, dan tanpa henti hingga sampai di sebuah kecamatan, Aertembaga namanya. Aertembaga memang terkenal dengan pelabuhannya. Tak hanya peti kemas, ada juga sarana transportasi pengangkutan manusia ke jawa lewat lautan. Tak bisa membayangkan empat hari tiga malam terombang-ambing di tengah lautan, syukurlah pesawat telah menjangkau daratan utara sulawesi ini, ya walaupun dengan pelayanan dari salah satu maskapai yang terkadang mengecewakan.
Stasiun adalah sebutan terminal di sini. Angkutan umum terkadang hanya memutar sekilas di Aertembaga kemudian kembali lewat pasar Winenet. Mereka mungkin datang hanya sekadar pergi membeli keperluan dan kembali dari sana. Setelah stasiun, kami belok ke arah pelabuhan, kemudian lurus melewati sebuah perusahaan semen. Merek itu terlihat jelas dari jalanan kami lewati, tertempel depan bangunan pabrik dengan konstruksi menyerupai tabung. Jalan yang dilalui semakin menyempit, seperti jalan setapak, karena belum diaspal, ada kelurahan pateten.
Lurus lagi, kami melihat kantor BAKAMLA di kanan jalan, kemudian hotel Nalendra di kiri jalan. Lurus lagi, sepertinya kami melihat beberapa gerbang pelabuhan, sehingga kami berbelok ke arah kiri. kemudian ke kanan.
Terkadang tidak yakin, apakah ini masih kota Bitung, atau sudah masuk kabupaten lain.
Lurus lagi menemukan jalanan naik dan turun cukup curam. Saat turun, kau seharusnya melihat pemandangan di depan mu. Lautan terbentang, terlihat jelas pulau Lembeh, dan ada pulau-pulau kecil di depannya. Sungguh indah rasanya, ingin berlama-lama, sayangnya tidak ada tempat pemberhentian saat turun dari turunan itu. Sampai di bawah melihat sebuah kampus dengan gerbang depan gedung atau atapnya berhiaskan cat warna biru. Di samping kanan bahkan ada lapangan tenis, basket, beberapa fasilitas kampus itu.
Sayangnya tak ada pemberhentian ke kanan sekadar menikmati indahnya laut dan makan pisang goreng beserta sambal trasi khas Manado seperti di Malalayang. Tempat ini penuh dengan bau amis khas pelelangan ikan.
Setelah melihat peta, tempat ini ternyata cukup dekat dengan kawasan kebun binatang Tandurusa. Lelah mengemudikan motor, berhenti dan mencoba menikmati apa yang ada di kebun binatang.
Wisata ini dengan parkir motor ditarik uang sepuluh ribu. Ada binatang Tarsius, binatang endemik Sulawesi Utara. Ia mirip dengan koala, tapi ukurannya sangat kecil, seukuran tikus, bahkan lebih kecil dari ukuran tikus kolong di Jakarta. Matanya besar. Tarsius yang kita amati sedang menempel di pohon bambu.
Setelah itu kami melihat, kakaktua, elang, dan banyak burung dan binatang lainnya yang tidak diketahui namanya. Sayangnya kebun binatang ini, tidak menyedikan papan keterangan nama-nama hewan ini.
sesuai dengan namanya juga, ternyata ada kandang besar rusa di sini. Cukup melihat-lihat dan sudah agak sore, kami pamit dengan penjaga kawasan wisata ini.
mungkin itu saja sekilas petualangan kami di Tandurusa.

