Jakarta, 23 Oktober 2014
Terkadang melawati hidup hanyalah soal waktu. Tidak semua tahu bagaimana cara menikmati hidup dengan cara yang cerdas. Hidup bagi mereka yang berkuasa adalah tentang politik dan uang. Hidup bagi mereka kaum marginal adalah tentang bertahan dan banting tulang. Hidup bagi mereka pemuda terdidik adalah tentang nilai, kelulusan dan masa depan. Hidup di Kota Metropolis Jakarta, adalah tentang polusi, kemacetan, rumah kaca, banjir, dan pemberitaan awak media pers. Hidup hidup, tanpa moral etika dan nilai semenjak dalam kandungan, sampai sudah nyinyit-nyinyit, engkau penuh dengan perjuangan. Semua itu, demi apakah?
Ketika nanti manusia sampai pada titik elevasi kehidupan, lantas melupakan perjuangannya dan menginginkan titik elevasi lainnya, apakah engkau masih di sana setia menemaninya? Hidup-hidup. Sampai kapan berhenti membuat manusia memujamu? Sampai kapan engkau kan mengingatkan mereka akan musuh utamamu? Mengingat kematian yang sudah lebih dekat..
Hidup.. terima kasih atas waktumu. Hidup berhargaku di Jakarta, adalah ketika kudapat menikmati indah pagiku dengan sang mentari, maaf menyinggungmu.
Read more ...
Terkadang melawati hidup hanyalah soal waktu. Tidak semua tahu bagaimana cara menikmati hidup dengan cara yang cerdas. Hidup bagi mereka yang berkuasa adalah tentang politik dan uang. Hidup bagi mereka kaum marginal adalah tentang bertahan dan banting tulang. Hidup bagi mereka pemuda terdidik adalah tentang nilai, kelulusan dan masa depan. Hidup di Kota Metropolis Jakarta, adalah tentang polusi, kemacetan, rumah kaca, banjir, dan pemberitaan awak media pers. Hidup hidup, tanpa moral etika dan nilai semenjak dalam kandungan, sampai sudah nyinyit-nyinyit, engkau penuh dengan perjuangan. Semua itu, demi apakah?
Ketika nanti manusia sampai pada titik elevasi kehidupan, lantas melupakan perjuangannya dan menginginkan titik elevasi lainnya, apakah engkau masih di sana setia menemaninya? Hidup-hidup. Sampai kapan berhenti membuat manusia memujamu? Sampai kapan engkau kan mengingatkan mereka akan musuh utamamu? Mengingat kematian yang sudah lebih dekat..
Hidup.. terima kasih atas waktumu. Hidup berhargaku di Jakarta, adalah ketika kudapat menikmati indah pagiku dengan sang mentari, maaf menyinggungmu.

